efl cup yang mulai jadi prioritas

Diawali mulai sejak th. 1871, FA Cup saat ini berstatus sebagai pertandingan tertua di sepakbola internasional. Dengan periode yang saat ini telah meraih th. ke-146nya, pasti pamor FA Cup dapat disebut cuma kalah dari Premier League di persepakbolaan Inggris. Memenangkan FA Cup juga kadang-kadang jadi ukuran keberhasilan untuk satu club dalam melakukan musim reguler.

FA Cup juga seringkali mendatangkan surprise dari tim kasta bawah. Pasti ini adalah satu diantara konsekwensi dari melibatkan tim-tim non-liga yang bertanding di bawah bendera FA. Tiap-tiap tim dapat disebut mempunyai peluang yang sama untuk memenangkan turnamen ini. ” The magic of the cup ” –begitulah ungkapan yang pernah keluar pada medio 2000an lantaran banyak surprise yang ada dari FA Cup oleh tim-tim yang termasuk kecil serta bahkan juga namanya cukup asing di dengar.

Kesuksesan Hull City, Aston Villa serta Crystal Palace–meskipun adalah tim Premier League–untuk masuk ke final semasing dalam tiga musim paling akhir pasti masuk dalam kelompok surprise. Mengingat mereka tidaklah tim unggulan di liganya, pasti meraih final pada turnamen ini adalah pencapaian yang cukup fantastis. Walau mesti takluk dari Arsenal (2 x final) serta Manchester United lantaran ketidaksamaan kwalitas yang cukup jauh, meraih final pasti adalah prestasi sendiri.

Pasti ada banyak surprise yang lain yang pernah tersaji di FA Cup, seperti Luton Town–kala itu bertanding di Conference Premier–di musim 2007/08 yang singkirkan Norwich City–kala itu di Premier League. Tetapi, sejak perubahan milenium, FA Cup tak kian lebih sebatas arena memainkan pemain muda. Dengan adanya banyak turnamen yang perlu dihadapi–umumnya oleh tim Premier League–dan prioritas pada pertandingan lain itu, seringkali FA Cup cuma jadi arena memperoleh saat bermain untuk pemain muda, seperti yang diperlihatkan Liverpool akhir minggu lantas pada kompetisi melawan Plymouth.

Sesaat pamor FA Cup saat ini tengah alami penurunan, tidak sama yang berlangsung EFL Cup. Pertandingan yang cuma beranggotakan 92 tim ini–dari Premier League sampai League Two–justru dapat disebut tengah alami penambahan popularitas. Memanglah, EFL Cup juga adalah arena untuk tim besar untuk memainkan pemain mudanya. Tetapi, trend dalam sebagian musim paling akhir tunjukkan kalau EFL Cup lebih jadi prioritas mereka.

Surprise besar dalam EFL Cup mungkin saja paling akhir berlangsung pada musim 2014/15, di mana saat itu Manchester United disingkirkan oleh MK Dons. Atau Bradford City yang singkirkan Wigan serta Arsenal pada musim 2012/13 serta meraih partai final sebelumnya dikalahkan oleh Swansea. Tetapi, dalam sebagian musim paling akhir, dominasi tim divisi atas serta minimnya surprise bikin tim Premier League terlihat lebih fokus pada turnamen ini.

Dengan peluang memenangkan turnamen yang lebih terbuka lebar, pasti ini yaitu hal yang lumrah. Sebagai contoh, mari kembali tengok Liverpool. Sesudah dikritik pada FA Cup lantaran materi pemain yang dimainkan, Klopp menunjukkan keseriusannya pada kompetisi melawan Southampton. Walau timnya kalah, tim yang di turunkan oleh Klopp dapat disebut nyaris 100% serupa dengan yang umum ia turunkan di Premier League. Dengan mereka yang telah meraih semi final, pasti Klopp tidak mau mempertaruhkan kesempatan mereka untuk mencapai gelar serta memainkan pemain yang minim pengalaman.