Jokowi Dihadapkan Tantangan Berat di Tahun Politik

Jokowi Dihadapkan Tantangan Berat di Tahun Politik – Meroketnya kurs dolar Amerika Serikat (AS) pada rupiah berlangsung di tahun politik, dimana Joko Widodo (Jokowi) kembali maju Pemilihan presiden. Sikap Jokowi jadi negarawan tengah ditest.

Ditambah lagi, banyak kebijakan Jokowi mendekati Pemilihan presiden 2019 diketahui populis. Oleh karenanya, Jokowi disuruh keluar dari pakemnya itu.

” Sekarang ini tengah dinilai oleh orang apa Jokowi ini negarawan atau sekedar hanya presiden. Langkah strategis mesti diprioritaskan Jokowi serta tidak sekedar langkah populis, ” kata Pengamat komunikasi politik Kampus Paramadina, Hendri Satrio pada wartawan, Rabu (5/9/2018).

Satu diantaranya kebijakan populis Jokowi ialah menjaga harga bahan bakar minyak (BBM) serta tarif listrik ditengah melambungnya harga minyak dunia. Malah menurut Hendri, Jokowi dapat saja menambah harga BBM walau dolar melejit.

” Tujuannya apabila memang menambah BBM ialah satu diantaranya teknik mengawasi atau bahkan juga melakukan perbaikan ekonomi semestinya dilaksanakan saja. Pastinya Jokowi tergoda menggerakkan taktik buying times, nunggu pemilihan presiden sekalian mengharap rupiah menguat sendiri. Taktik ini amat beresiko karena ada variabel spekulan disana, ” papar Hendri.

Hendri berasumsi, ialah utama buat Jokowi mengaku kekeliruan taktik seperti jor-joran bangun infrastruktur. Di sinilah halangan buat Jokowi di tahun politik, keluarkan kebijakan non-populis akan tetapi kian di cintai rakyat.

” Juga perlu buat Jokowi buat mengaku ada kekeliruan taktik seperti berbelanja infrastruktur yang terlampau besar, tetapi selanjutnya ajak rakyat berbarengan menantang keadaan ekonomi sekarang ini, mumpung semangat persatuan peninggalan Asian Games 2018 masihlah hangat, ” kata Hendri.

Buat keadaan teranyar, beberapa bank udah jual dolar AS di angka Rp 15. 000. Hal seperti ini berlangsung karena keinginan dolar AS yang tinggi serta membawa dampak desakan pada nilai Rupiah.

Naiknya dolar AS juga mendapatkan kritikan dari oposisi. Semisalnya oleh Waketum Gerindra Fadli Zon yang menyebutkan Jokowi tidak sukses menangani persoalan itu.