Komnas Wanita Minta Polisi Tidak Sangsi Membuka Jati Diri Rian

Komnas Wanita Minta Polisi Tidak Sangsi Membuka Jati Diri Rian – Komnas Wanita minta polisi tidak sangsi membuka jati diri Rian, penyewa layanan prostitusi artis Vanessa Angel, dengan transparan. Polisi disuruh berani membuka nama jelas serta figur Rian sebab entrepreneur itu dipandang pun sisi dari pihak yang ikut serta dalam eksploitasi wanita.

“Polisi mesti berani. Sebab mereka sebenarnya pemakai ini pula aktor eksploitasi pun, dengan kemampuan kekuasaan materi. Materi kan membuat rekanan yang berbeda. Orang yang miliki materi, ia miliki kemampuan. Dalam persepsi Konsolidasi Wanita, mereka dapat dipandang aktor eksploitasi dari wanita yang diperjualbelikan itu,” kata komisioner Komnas Wanita Imam Nakhae’ie waktu dihubungi, Senin (7/1/2019).

Imam menjelaskan Rian saling bertindak seperti muncikari yang mengakibatkan terjadinya transaksi prostitusi. Ia menjelaskan pengertian tindak pidana perdagangan orang (TPPO) butuh diperluas.

“Untuk aktor, pemakai layanan memanglah belum ditata dengan normatif dalam UU ataupun TPPO. Dalam TPPO, ada klausul yang tidak jelas, apa pemakai layanan wanita yang dilacurkan itu dapat dipidana ataukah tidak,” papar Imam.

“Jika Komnas Wanita memang merekomendasikan untuk mengerti masalah TPPO terpenting terkait dengan pengertian itu diperluas. Kan dalam pengertian itu ada kata manfaatkan, itu yang butuh diperluas. Berarti tidak cuma muncikari yang manfaatkan lewat cara eksploitasi, tetapi pun pria yang memakai layanan pemakai yang atas kekuasaan materi,” sambungnya.

Polisi menyebutkan Rian masih tetap bujangan. Rian, yang ber-KTP di Jakarta, berusia 40-50 tahun. Akan tetapi polisi malas menunjukkan figur Rian. Polisi beralasan malas memaparkan aib seorang.

Keadaan berlainan dihadapi artis Vanessa Angel serta Avriella Shaqqila, yang dipertunjukkan nama jelas dan figurnya semenjak awal diamankan. Akan tetapi kedua-duanya dibolehkan kembali pada Jakarta.

Akan tetapi dengan ada transparansi info masalah Rian, bila nanti didapati ia telah menikah, pria itu dapat dijaring dengan Masalah 284 KUHP mengenai kumpul kebo. Sebab prasyarat diterapkannya masalah ini adalah salah satunya pihak atau ke-2 pihak yang ikut serta telah menikah.

Jadi sebetulnya dapat gunakan dua masalah, di satu bagian dipandang TPPO, di lain sisi jika ia telah menikah bermakna ada pengkhianatan pada jalinan perkawinan itu,” kata Imam.

Diminta konfirmasi terpisah, komisioner Komnas Wanita yang lain, Adriana Venny, menyatakan pria pemakai layanan prostitusi dapat dijaring dengan TPPO. Dengan demikian, tidak cuma wanita yang jadi sorotan publik.

“Tetapi dalam UU Penghilangan Tindak Perdagangan Orang, pelakunya dapat juga dijaring, bergantung pada pembuktiannya. Tetapi untuk TPPO, wanita ialah korban serta penyewanya ini berposisi menjadi konsumen. Semestinya polisi mesti dapat. Sebab kelak ribet jika skema hukum Indonesia tidak menangkap aktor, sebab jadi seakan perempuannya saja yang disorot. Ini kan aktor bebas, walau sebenarnya ada UU untuk menangkap itu,” kata Adriana.

Lebih jauh, Adriana ingin polisi menyelidik masalah ini sampai selesai. Tarif Rp 80 juta untuk Vanessa Angel dipandang tinggi.

“Contoh, mungkin ia Rian itu contoh seperti makelar (project), juga bisa ia mungkin ikut serta gratifikasi seksual. Jika telah berikut, ini KPK yang butuh menyelidik siapa yang ingin disuap. Apa cuma ia aktor pentingnya atau ada kembali? Kita mengharap hal ini tersingkap. Contoh adakah petinggi yang dikasih gratifikasi seksual, ini kan butuh diselidiki,” papar ia.

Didapati, Vanessa bersama dengan Avriella diamankan pada Sabtu (5/1). Diluar itu, ada tiga orang yang lain yang ditangkap, yaitu dua muncikari asal Jakarta serta satu asisten.

Waktu diamankan, Vanessa telah kencan di hotel. Sesaat Avriella belumlah berkencan.

Polisi melepas Rian sebab statusnya cuma saksi. Entrepreneur itu sudah sempat dicheck sesudah digerebek di salah satunya hotel di Surabaya dengan Vanessa Angel. Akan tetapi kontrol itu cuma berjalan beberapa saat